Catatan Pengajian : Guru Qomaruddin
Senin Siang, 12 Januari 2026
Mesjid Noor, Jl. P. Samudera, Banjarmasin
Kajian Kitab Nurudz Dzolam
• Diantara nya lagi Suhuf yang di Terima Nabi Ibrahim isi nya adalah “Hendak lah orang yang sempurna akal nya itu tidak ada keinginan dan semangat nya melainkan :
1. Mempersiapkan bekal menuju Akhiratnya.
2. Mempersiapkan keperluan dunia.
3. Disilahkan mencari kelezatan pada sesuatu yang tidak di haram kan.
• Di dalam Al-Quran di sebut kan “silahkan makan yang Thoyyiban”, yakni :
1. Halal.
2. Bergizi.
3. Cocok dengan air liur.
Jadi diperintahkan kita, agar syukur nya itu sempurna.
• Seperti yang lezat selama di haramkan maka hendaklah di tinggalkan, seperti yang lezat lezat, di istri seperti mau datang bulan, atau makanan yang lezat di tinggal kan, jadi silahkan mengambil yang kelezatan tapi yang selain di haramkan.
• Diantara kelezatan lainnya adalah “Seseorang yang nikah dengan tangan nya”, karena Allah mengutuk orang yang nikah dengan tangan sendiri, tapi apabila istri mengeluarkan punya suami dengan tangan istri boleh aja.
• Karena yang di namakan selamat itu adalah orang yang di hari itu tidak melakukan maksiat dan dosa, baik maksiat dzohir apalagi maksiat batin.
Walaupun dia selamat dari musibah tapi dia melakukan maksiat, maka dia tidak selamat.
• Orang yang beruntung adalah orang yang mengerjakan kewajiban semaksimal mungkin, orang yang rugi adalah orang yang mengerjakan apa yang di haramkan.
• Allah Ta’ala itu sangat cemburu kepada wali wali nya, jangan sampai wali nya itu menggawi yang haram, jangan kan yang haram yang sia sia pun para wali itu di jaga sekali.
Sebagaimana Syaikh Abdul Qadir jaelani, sewaktu beliau masih kecil suka sekali bermain dengan sapi, maka si sapi tu berbicara, “wahai Syaikh ini bukan semesti nya pekerjaan pian (anda)”, artinya Syaikh Abdul qadir jaelani di jaga dari yang sia sia.
• Sebagaimana abah guru Sekumpul juga, sewaktu beliau di ajak ke bioskop, sampai di bioskop mesin nya rusak, esok nya bioskop nya rubuh, itu lah waliyullah yang di jaga kan dari yang tidak sepatutnya.
• Jadi, menjadi patokan kita melihat wali itu adalah tatkala dia takut kepada Allah, dan muthabaah dengan nabi, seperti abah guru, sidin itu tidak banyak bicara, kemudian menjaga pandangan mata.
• Bila kita melihat orang mengerjakan yang haram, lalu ada di dalam hati mengolok olok orang itu, maka itu menunjukkan ada rasa iri di diri kita, bahwasanya kita lebih baik dari orang itu.. Maka itu sombong namanya.
• Kata Habib Abdullah Al Haddad, di dalam kita memberi nasehat ke orang atau berdakwah, hendaklah kembalikan ke diri kita, artinya menasihati ke diri kita sendiri juga, bukan menasihati orang lain.
Posted inPengajian Guru Qomaruddin
Pengajian Guru Qomaruddin

